Opini  

Figur Baru Untuk Bupati Konawe: Kaum Muda Atau Kaum Tua?

Redaksi
Muhammad Syahri Ramadhan. (Foto: Istimewa).

KLIKSULTRA.ID – Tak terasa pesta demokrasi tidak lama lagi akan terselenggara dari hingga Pemilihan Presiden (Pilpres) Pemilihan Umum (Pemilu) Pemilihan Gubernur (Pilgub) Hingga Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) semua itu serentak di laksanakan pada tahun 2024. Walaupun sebagian provinsi dan kabupaten/kota masih ada yang tidak melakukan pemilihan serentak dikarenakan periodesasi jabatan belum berakhir.

Berbeda hal di Kabupaten Konawe, pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan di laksanakan pada tahun 2024, tak terasa pesta demokrasi di Konawe dan aroma-aroma nuansa politik mulai tercium.

Dari awal terbentuknya Kabupaten Konawe yang dulunya kabupaten kendari dan sekarang telah berganti nama, kab. Konawe selalu di pimpin oleh kaum tua, hal ini tidak lazim dikarenakan budaya masyarakat konawe yaitu menghormati orang yang lebih tua, dan sedikitnya minat kaum muda pada saat itu untuk ikut berkompetisi dalam ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada). Saat ini gempuran para calon-calon bupati di Kab. Konawe mulai bermunculan dari Kaum Muda Hingga Kamu Tua.

Survei BPS Mencatat bahwa lonjakan pemilih pada pesta politik di tahun 2024 meninggi hal ini disebabkan adanya pemilih pemula dari kalangan milenial atau biasa di katakan Gen Z. Hal ini bisa dikatakan menjadi kekuatan baru dalam pesta politik 2024, karena tanpa kita sadari kekuatan pemilih pemula saat ini bisa terbilang New Power di bandingkan pemilih sebelumnya, tentunya ada upaya-upaya dari pemerintah maupun penyelenggara pemilu untuk selalu memberikan pengetahuan kepemiluan kepada pemilih pemula ini.

Banyak stigma yang terbangun di masyarakat bahwa kaum muda belum layak menjadi pemimpin sebuah daerah dikarenakan masih banyak proses-proses yang harus di pelajari nya lagi, begitu pula stigma tentang pemimpin dari kaum tua bahwa bukan hanya kaum tua saja yang mampu memimpin daerah, kaum muda pun juga bisa. Tanpa kita sadari hal ini bisa memecah bela rasa persaudaraan dan persatuan kita.

Oleh karena itu jadilah pemilih cerdas yang mampu melihat progres dan bukti nyata bukan janji-janji yang hanya dibuat sebagai pemanis awal dalam menginginkan suatu hal.

Namun, dalam kenyataannya, tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Setiap calon bupati memiliki kelebihan dan kekurangan, dan usia tidak selalu menjadi indikator kualitas kepemimpinan.

Sebagai negara yang terus bergerak maju dan berkembang, ada beberapa kecenderungan bahwa pemilih lebih memilih figur bupati yang lebih muda. Ini karena generasi muda saat ini terkenal dengan penggunaan teknologi yang lebih baik dan kreativitas dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Pemimpin muda juga dianggap lebih dekat dengan kebutuhan dan harapan dari generasi muda, dan mereka mampu mengembangkan kebijakan dan program yang lebih inovatif dan relevan bagi mereka.

Usia bukanlah satu-satunya faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih figur bupati yang tepat. Yang terpenting adalah integritas, pengalaman, kemampuan untuk memimpin, dan dedikasi untuk memajukan daerah. Bupati yang baik harus mampu mengatasi tantangan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak peduli berapa usia mereka.

Selain itu, perlu juga diperhatikan bahwa setiap daerah memiliki keunikan dan karakteristiknya sendiri. Oleh karena itu, saat memilih figur bupati, perlu dipertimbangkan juga faktor-faktor seperti budaya, adat istiadat, dan aspirasi masyarakat setempat. Seorang bupati yang memahami karakteristik dan kebutuhan daerahnya, dan mampu membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat, akan lebih sukses dalam memimpin dan memajukan daerahnya.

Dalam kesimpulan, tidak ada jawaban pasti apakah figur bupati harus berasal dari kaum tua atau kaum muda. Yang terpenting adalah bahwa bupati yang terpilih harus memiliki integritas, pengalaman, kemampuan kepemimpinan, dan dedikasi untuk memajukan daerahnya, ia juga harus memahami karakteristik dan kebutuhan daerah serta mampu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat setempat.

Jadi, sebagai pemilih, kita harus mengevaluasi calon bupati secara obyektif dan memilih yang terbaik untuk memimpin daerah kita ke masa depan yang lebih baik.

Penulis : Muhammad Syahri Ramadhan (Mahasiswa Universitas Lakidende).

Respon (2)

  1. Kaum tua sudah pikun tidak cerdas dalam melihat keinginan masyarakat jadi saatnya kaum mudami yang mengerti kenginan masyarakat terkhusus keinginan mahasiswa????????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *