Opini  

Kemunduran Cara Berpikir Kritis Mahasiswa di Daerah, Dibungkam dengan Rasa Ketakutan Terhadap Birokrasi Kampus

Redaksi
Muhammmad Syahri Ramadhan. (Foto: Istimewa).

 

KLIKSULTRA.ID – Saat ini mahasiswa zaman sekarang dan di zaman dahulu atau kerap di katakan mahasiswa Tahun 98 sangat jauh dan bertolak belakang, dikarenakan nilai-nilai kritis terhadap mahasiswa di zaman yang serbah kompleks ini pemikiran mahasiswa mulai terbungkam dengan beragam alasan.

Dari mulai munculnya era digitalisasi, seharusnya mahasiswa mampu menggunakan itu sebagai penyampaian cara berpikir kritis di media sosial.

Hanya sebagian saja yang mengerti dan tahu cara menggunakan media sosial sebagai alat untuk mengeluarkan nilai-nilai pemikiran kritis mereka.

Tentunya hal ini akan menjadi tantangan besar bagi mahasiswa di era saat ini, terkhusus mahasiswa yang berada di daerah-daerah di luar Pulau Jawa yang notabenenya penggunaan internet dan media sosial belum terlalu masif di perkembangan.

Mahasiswa seharusnya menjadi agent of solution dan win win solution terhadap masyarakat sosial, karena untuk bisa menduduki bangku perkuliahan bukanlah hal yang mudah.

Hanya orang-orang pilihan lah yang mampu melanjutkan pendidikan tersebut, dan mahasiswa di daerah saat ini terkesan hanya menggugurkan kewajiban untuk melakukan proses pembelajaran tetapi dari marwah mahasiswa lambat laun mulai terkikis oleh degradasi moral, zaman, dan pemikiran yang terbelenggu di situ-situ saja.

Hal ini terjadi di salah satu kampus di sulawesi tenggara yang berada di Kabupaten Konawe, jika kita mengulas sejarah perjalan kampus tersebut bahwa kampus tersebut telah melahirkan aktivis-aktivis hebat di masanya dan masih eksis sampai saat ini.

Bukan saja hanya aktivis yang telah di cetak oleh kampus itu tapi para pemimpin dan publik figur di daerah yang dulunya juga lahir dari kampus tersebut.

Ini hanya akan mengisahkan sejarah saja namun mahasiswa yang berada di kampus itu terkesan mengalami kemunduran cara berpikir kritis, dan kekuatan moral mahasiswa yang semakin berkurang.

Hal ini disebabkan oleh birokrasi kampus yang terlalu jauh masuk ke dalam pribadi mahasiswa untuk tidak melakukan hal-hal yang berbau dengan pengembangan cara-cara berpikir kritis.

Mahasiswa hanya di tuntut untuk melakukan pembelajaran saja, dan ini adalah salah satu cara pembungkaman yang di lakukan oleh birokrasi kampus terkesan dilakukan secara terstruktur dan masif.

Tentunya menjadi mahasiswa adalah tantangan berat bagi setiap individu karena masyarakat,orang tua, telah menaruh harapan besar di pundak kita sebagai mahasiswa oleh karena itu jadilah mahasiswa yang berguna bagi bangsa, negara, daerah, dan keluarga.

Jangan hanya menjadi mahasiswa yang mementingkan pribadi sendiri jadilah mahasiswa yang mampu di andalkan oleh masyarakat sehingga kita mampu mengembalikan ruh dan marwah mahasiswa sesungguhnya.

Penulis: Muhammmad Syahri Ramadhan (Mahasiswa Universitas Lakidende (Unilaki) Konawe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *