KLIKSULTRA.ID, KONAWE – Bupati Konawe Yusran Akbar melakoni aktivitas pertukangan kayu di waktu luang. Di tengah padatnya agenda pemerintahan, tata kota, dan pelayanan masyarakat, ia kerap melepas atribut formal.
Ia mengenakan kaus oblong putih, memegang mesin serut kayu, serta membiarkan tangannya kotor oleh serbuk gergaji pada Rabu (07/10/2026).
Di balik jabatannya sebagai Bupati Konawe sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional Sulawesi Tenggara, Yusran konsisten menjaga identitasnya sebagai tukang kayu. Aktivitas ini bukan sekadar hobi untuk mengisi waktu senggang. Dunia pertukangan merupakan fondasi utama yang membentuk karakter kepemimpinannya hingga hari ini.

Yusran mulai menekuni olah kayu sejak masa remaja di Kabupaten Konawe. Pada masa itu, kayu menjadi sarana utama bagi Yusran untuk bertahan hidup sekaligus membantu perekonomian keluarganya.
”Awalnya memang karena kebutuhan. Tapi semakin ditekuni, saya menemukan banyak pelajaran hidup di dalamnya,” ujar Yusran saat ditemui di sela-sela kesibukannya merapikan papan kayu, belum lama ini.
Proses mengolah kayu mengajarkan nilai kesabaran, ketelitian, dan kekuatan fisik maupun mental. Kayu yang keras tidak bisa dibentuk menggunakan emosi.
Seseorang harus memahami alur serat kayu, lalu membentuknya lewat ketekunan yang konsisten.
Prinsip kerja pertukangan tersebut ia terapkan secara langsung dalam kerja kepemimpinan.
Sebagai pimpinan partai politik di tingkat provinsi, Yusran mengusung semangat “Kerja Cepat Bantu Rakyat”. Hasil kerja yang kokoh dan berkualitas tidak pernah hadir secara instan.
Namun, seorang tukang kayu profesional paham kapan harus mengeksekusi bahan baku secara cepat agar material tidak rusak atau lapuk.

”Kerja Cepat Bantu Rakyat itu bukan berarti tergesa-gesa tanpa arah. Seperti memotong dan menyerut kayu, kita harus cepat, tepat, dan presisi. Jika lambat, kayu bisa lapuk. Jika salah ukur, hasilnya tidak berguna. Dalam pemerintahan, kecepatan merespons kebutuhan masyarakat adalah kunci,” tegasnya.
Kesibukan Yusran sebagai tokoh sentral di Sulawesi Tenggara membuat jadwal hariannya dipenuhi rapat koordinasi, kunjungan kerja, dan agenda konsolidasi organisasi.
Kendati demikian, bengkel kayu pribadi menjadi tempatnya kembali untuk menjaga keseimbangan diri dan mengingat asal-usulnya.
”Di tengah kebisingan mesin serut itu, saya menemukan ketenangan. Di situ saya ingat dari mana saya berasal,” ungkapnya.
Proses perumusan gagasan dan keputusan strategis daerah sering kali matang saat ia sedang mengolah kayu.
Aktivitas meratakan papan yang kasar menjadi halus mengandung nilai spiritual serta meditatif.
Yusran menjadikan proses mekanis tersebut sebagai analogi dalam merumuskan kebijakan publik dan tata kelola pembangunan daerah.

”Seperti kayu, masyarakat kita juga butuh ‘diserut’ dengan kebijakan yang tepat agar permukaannya rata, tidak ada yang menonjol dan saling bergesekan. Hasilnya, sebuah bangunan yang kokoh, yaitu Konawe yang maju dan sejahtera,” paparnya.
Sikap membumi ini terlihat langsung oleh warga yang kerap menyaksikan Yusran bekerja.
Tetesan keringat serta serbuk gergaji yang menempel di wajahnya menegaskan sisi personalnya sebagai warga biasa yang merakyat. Ia tidak membuat jarak antara diri sendiri dan masyarakat yang ia pimpin.
Pendekatan ini membuktikan bahwa kepemimpinan daerah tidak selalu identik dengan formalitas yang kaku.
Yusran hadir secara utuh sebagai birokrat, politisi, sekaligus perajin yang memahami realitas kehidupan masyarakat bawah.
Pengalaman masa remaja di Kabupaten Konawe menanamkan pemahaman mendalam tentang pentingnya fondasi yang kuat.
Dari karakter kayu yang ia olah, Yusran Akbar berkomitmen membangun Kabupaten Konawe dan Sulawesi Tenggara secara presisi, terukur, serta berakar kuat pada kepentingan rakyat. (**)










